Polusi Udara di Negeri Paru-paru Dunia

 


Asap pekat berkepul menyesakkan

Bercampur debu berbaur satu

Menjadi utuh dalam udara keruh

Melesat bebas diantara sengat panas

Kerongkongan tercekik

Nirwana menipis tanpa kutik

Bumi pun merintih tanpa isakan tangis –Erna

 

Puisi di atas merupakan selarik gambaran tentang kondisi udara masa kini yang begitu rusak akibat ulah manusia. Dalam beberapa dekade belakangan ini, negara-negara dunia melaporkan kondisi udara yang sudah mulai tercemar, sehingga langit-langit diselimuti oleh kabut akibat polusi udara.

Merujuk hasil aplikasi pemantau kualitas udara IQAir, Frank Hames menuturkan bahwa 90 persen populasi global saat ini menghirup udara yang tidak aman. Tidak kurang 70 juta jiwa masyarakat terbunuh oleh polusi udara setiap tahunnya. Udara bumi yang dahulunya segar, sejuk, bersih, kini malah nampak seperti mesin pembunuh senyap. Bagaimana tidak. Menurut WHO,  Polusi udara yang masuk dalam tubuh manusia bisa menyebabkan stroke, kanker paru-paru dan penyakit jantung.

Kualitas udara di bumi saat ini memang tengah mengalami penurunan yang signifikan. Degradasi kualitas udara itu mengancam keberlangsungan makhluk hidup di bumi. Banyak kandungan zat polutan yang membuatnya menjadi salah satu ancaman, diantaranya adalah CO, CO2, NO, NO2, NH3, dan lain-lain. Semua kandungan itu dapat memperpendek jangkauan penglihatan manusia dan membahayakan kesehatan pernafasan sehingga menimbulkan penyakit infeksi saluran pernapaan (ISPA), radang paru-paru, asma, pneumonia dan sebagainya.

Lembaga Greenpeace menyatakan bahwa negara Indonesia menempati posisi 10 negara berpolusi di dunia, bahkan ibu kota Indonesia, yaitu Jakarta lebih parah dengan menduduki peringkat 3 negara paling berpolusi di dunia pada tahun 2019. Polusi udara di Jakarta tiga kali lebih besar dibandingkan batas “aman” maksimum yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu 25 mikrogram per meter kubik.

Fakta yang baru-baru dirilis itu, seketika membuat masyarakat Indonesia tercengang. Bagaimana tidak, Indonesia yang notabene hutannya menjadi salah satu terluas di dunia, malah menyandang gelar negara berpolusi di dunia. Jika dilogika tentu menjadi tidak masuk akal, sebab banyaknya ruang-ruang terbuka hijau di beberapa daerah di Indonesia dapat meminimalisir timbulnya polusi. Atau, mungkin saja karena jumlah polusi yang benar-benar tidak terkendali sehingga dapat menahan laju fungsi pohon di Indonesia sebagai paru-paru dunia kedua.

Zaman yang semakin modern dengan segala kecanggihan teknologi tidak menutup kemungkinan dapat cepat menyelesaikan problem polusi ini.  Bahkan hadirnya teknologi canggih tersebut, memperbanyak kurva polusi udara setiap tahunnya. Sebut saja alat-alat transportasi, pabrik, gedung-gedung bertingkat dan sebagainya. Sebab, polusi udara bermula akibat kerakusan manusia akan teknologi. Manusia selalu berusaha mengembangkan teknologi-tekonologi untuk memudahkan pekerjaan di masa depan.

Namun sayang, i’tikad baik tersebut tidak diimbangi dengan pemikiran jangka panjang tentang ulah yang diperbuat, apakah nanti berdampak positif ataukah negatif. Alhasil, manusia terus menggali, bekerja keras menemukan cara bagaimana memajukan kehidupan manusia tetapi mengesampingkan dampak kecanggihan teknologi pada lingkungan. Manusia memang memperoleh akses kemudahan di segala lini pekerjaan, tetapi di sisi lain mereka juga mendapat kerugian yang tidak sebanding jumlahnya.

Seperti yang penulis singgung diawal, bahwa polusi menimbulkan korban tidak kurang dari 70 juta jiwa. Hal tersebut mengindikasikan bahwa, kini manusia harus mulai mengambil tindakan agar korban tidak terus berjatuhan. Manusia harus segera menemukan cara yang efisien untuk meng-cover dampak teknologi bagi lingkungan dan masyarakat terutama para generasi di masa depan yakni anak dan cucu agar mereka juga dapat menikmati keindahan alam Sang Maha Kuasa.

Negara Indonesia sendiri dapat mencontoh negara lain yang lebih dahulu sukses menjaga kualitas udaranya agar senantiasa bersih dan sehat. Tidak jauh-jauh, negara tetangga Indonesia saja yaitu Australia dinobatkan oleh WHO sebagai negara dengan udara paling bersih di dunia. Hal itu karena Australia mempunyai peraturan hukum lingkungan yang kuat, meskipun pertumbuhan industri di Negeri Kanguru itu tergolong pesat.

Dari sekian juta masyarakat, beruntungnya masih ada diantara mereka yang sadar akan dampak buruk kecanggihan teknologi. Mereka inilah para aktivis lingkungan yang berusaha membuat gebrakan peduli lingkungan di tengah-tengah spekulasi masyarakat yang abai akan pengaruh buruk perkembangan teknologi. Mereka memulai gerakan dengan mengubah haluan masyarakat tentang penggunaan teknologi yang ramah lingkungan, seperti menggunakan alat-alat bertenaga listrik bukan bahan bakar tambang, membudayakan karakter mendaur ulang sampah bukan membakarnya dan masih banyak lagi contoh gerakan yang mereka galakkan

Kini usaha yang mereka galakkan sedikit demi sedikit mulai memperlihatkan hasilnya. Pada spot-spot tertentu terutama di perkotaan, mulai banyak didirikan kawasan terbuka khusus taman atau pepohonan. Banyak juga dari kalangan pemuda yang gencar membahasan isu lingkungan pada event-event tertentu seperti seminar maupun kolokium kepada masyarakat. Hal itu juga bertujuan untuk membatasi gerak pemerintah agar tidak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang malah merusak ekosistem hutan di Indonesia. Wallahu a’lam bi al-shawwaab.

#Yakusa


Polusi Udara di Negeri Paru-paru Dunia Polusi Udara di Negeri Paru-paru Dunia Reviewed by Wahyuni Tri Ernawati on Juni 25, 2022 Rating: 5

Tidak ada komentar:

top navigation

Diberdayakan oleh Blogger.