Urgensi MBG: Efektif atau Sebaliknya?

(Sumber gambar: ICW.id)

Presiden Republik Indonesia yakni Bapak Prabowo Subianto menginisiasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai direalisasikan sejak Januari 2025. Sejatinya, program MBG mempunyai tujuan yang visioner: menyejahterakan SDM melalui peningkatan gizi, menurunkan statistik anak penyandang stunting, dan memperhatikan tumbang (tumbuh dan kembang) anak Indonesia. Dengan demikian, diharapkan program MBG menjadi pijakan awal dalam menyongsong SDM unggul "generasi emas 2045".

Dampak dan Urgensi

Bila dilihat melalui kacamata positif, MBG membawa signifikansi yang berpengaruh pada tumbang (tumbuh dan kembang) anak. Dewan Pakar Bidang Gizi BGN di Jakarta Barat, Ikeu Tanziha menyatakan bahwa anak-anak saat ini masih berhadapan dengan problem kompleks berupa Triple Burden of Malnutrition atau tiga beban gizi. Apa itu? Kondisi ini ada saat di suatu tempat secara bersamaan terjadi gelombang Undernutrition (gizi kurang), Overnutrition (gizi lebih/ obesitas), Micronutrient Deficiency (kekurangan zat gizi mikro).

Pada poin kekurangan gizi/stunting masih menjadi PR besar yang sedari dulu menghambat laju pertumbuhan dan perkembangan anak Indonesia. Mengapa? Sebab gizi menempati peran krusial dalam mempengaruhi kemampuan fisik serta kognitif anak-anak terutama mereka yang berasal dari background menengah ke bawah. MBG ditargetkan dapat menyentuh aspek tersebut, sehingga status gizi meningkat dan menanggulangi stunting.

Mengenai penanganan gizi, bukan hanya tingkat nasional, program MBG juga selinier dengan tujuan kancah Internasional. Meski demikian, berhasil atau tidak program ini tidak hanya terletak pada niat, tetapi pada eksekusi. Bagaimana ketika program ini direalisaikan secara langsung di lapangan.

Guna menjamin MBG benar-benar efektif, tiga pilar utama harus diperkuat:

1. Strategi Realisasi yang Matang:

Memperhitungkan opsi penargetan yang lebih efisien (misalnya, berfokus pada kelompok rentan dan prasejahtera) untuk meminimalkan pemborosan.

2. Manajemen Anggaran yang Transparan:

Memastikan sumber pendanaan tidak mengganggu sektor vital lain dan penggunaan anggaran dipertanggungjawabkan. Serta tidak ada mark up anggaran yang mencuat sebagai celah korupsi.

3. Pengawasan Kualitas yang Ketat:

Membangun sistem pemantauan yang mampu menjamin standar gizi dan kebersihan makanan di seluruh rantai pasok dan distribusi.

Melalui demokrasi, diskusi publik yang konstruktif, dan evaluasi rutin, MBG kemungkinan dapat bertransformasi menjadi program intervensi sosial yang efektif, demi masa depan yang lebih sehat dan sejahtera bagi generasi penerus bangsa.

Namun, bagi penulis pribadi notabene sebagai pendidik, MBG bila diterapkan secara kontinue kurang aplikatif. Dilihat dari sisi manapun, MBG lebih menyasar pada sebuah "proyek" bukan "program". Sebab, dibanding menaikkan taraf gizi anak, menu yang dihadirkan bisa dibilang belum bergizi seimbang. Banyak dana pusat yang dimark up oleh oknum-oknum sehingga apa yang sampai ke anak tidak lebih dari setengah anggaran. Padahal, ini bisa diminimalisir jika pemberdayaan langsung oleh kantin-kantin sekolah, tidak melalui banyak tangan. Selain itu, MBG belum merata pengadaannya meski sudah 1 tahun perjalanan. Banyak sekolah yang seharusnya termasuk kategori urgen, justru belum mendapat jatah MBG.

Sejauh ini kebijakan MBG masih perlu dikaji ulang nan mendalam. Daripada MBG, seyogyanya dialihkan pada program nyata lain yang lebih efektif penyalurannya untuk anak. Selain karena penanggulangan stunting itu hanya sesuai pada usia balita dan Ibu hamil, MBG sangat rawan menjadi bancakan massal secara terang-terangan (red: bagi-bagi kue pejabat & anteknya).

Wallahu a'lam bi al-shawaab

Urgensi MBG: Efektif atau Sebaliknya? Urgensi MBG: Efektif atau Sebaliknya? Reviewed by Wahyuni Tri Ernawati on Desember 30, 2025 Rating: 5

Tidak ada komentar:

top navigation

Diberdayakan oleh Blogger.