Disadari atau tidak, beberapa tahun ke belakang, pendidikan di Indonesia tengah mengalami gejolak tantangan yang krusial. Tantangan tersebut menimbulkan problematika degradasi kualitas pembelajaran dan masih adanya kesenjangan akses pendidikan untuk semua warga.
Berdasar pada data riset terbaru Journal of Islamic Education and Multicultarism tahun 2024 dengan judul "Educational Problems in Indonesia", dinyatakan bahwa kesenjangan akses dalam pendidikan menjadi topik yang urgen untuk dibahas lantas dieksekusi mencari solusi.
Menurut data riset yang telah dianalisis penulis, ekosistem pendidikan di Indonesia cenderung kurang fleksibel dan minim efektifitas, sehingga menyebabkan ketimpangan kualitas pendidikan, terutama pada daerah-daerah terpencil di pelosok negeri. Secara menyeluruh, jika dibandingkan dengan negara lain, tentu hal ini menimbulkan ketertinggalan tingkat pendidikan nasional di kancah global.
Meskipun sistem pendidikan yang diaplikasikan hampir sama dengan negara lain, namun perbendaharaan dalam penerapan di lapangan seringkali ada beberapa kesalahan tanpa evaluasi yang memantik adanya ketidaksesuaian antara praktik dengan tujuan yang hendak dicapai. Bila dikalkulasikan, masih adanya ketidakmerataan akses pendidikan bagi anak-anak di sebagian wilayah Indonesia. Merupakan PR penting yang mendesak bagi pemerintah untuk segera diambil tindakan.
Penelitian yang dilakukan melalui wawancara dengan beberapa pemangku kepentingan pendidikan, tersingkap adanya problematika mendasar yang menjadi sebab timbulnya isu krusial dalam pendidikan. Diantara problematika tersebut mengerucut pada kesenjangan akses belajar yakni infrastruktur, dan sumber daya pembelajaran. Murid menuntut ilmu di sekolah yang berada di daerah-daerah terpelosok, dominan mengalami kesenjangan hasil belajar. Tentu hal ini menitikberatkan pada kualitas pendidikan yang hendak diraih, apakah memadai atau belum.
Signifikansi problematika lain yaitu inovasi dalam metode pengajaran. Metode yang digunakan belum berlandaskan pada pembelajaran mendalam sebagaimana yang telah digagas oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dan masih berorientasi pada pendekatan pendidik. Padahal, pembelajaran yang melibatkan partisipasi aktif murid membuat mereka lebih terlatih dalam berpikir kritis. Hal ini dapat membantu peta pikir mereka dalam menghadapi perkembangan zaman.
Anak-anak yang putus sekolah tergolong masih tinggi. Faktor ekonomi, pernikahan dini dan kurangnya kesadaran mengenai pendidikan menjadi poin utama penyebab murid putus sekolah. Perlu adanya reformasi di segala lini, terkhusus pendidikan yang tepat guna mengatasi problematika di atas. Reformasi pendidikan menjadi kunci tercapainya pendidikan berkualitas tanpa adanya sekat kesenjangan yang membatasi.
Di tengah gejolak tantangan ini, peneliti dalam studi "Educational Problems in Indonesia" memberikan serangkaian arah guna mengupgrade kualitas pendidikan. Adapun rekomendasi yang disebutkan ialah peningkatan infrastruktur akses pendidikan, pelatihan berkelanjutan bagi pendidik, dan reformasi eskalasi pembelajaran agar lebih relevan terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan zaman.
Terlepas dari problematika di atas, kini sebuah pertanyaan menghinggapi, apakah Sekolah Rakyat bisa dikatakan sebagai salah satu solusi? Wallahu a'lam bi asshawaab.
Reviewed by Wahyuni Tri Ernawati
on
September 21, 2025
Rating:


Tidak ada komentar: