Menyoal Kematian Ibu Melahirkan

 


Sebagaimana yang di sabdakan oleh Rasulullah SAW, perempuan merupakan tonggak penopang (baca: tiang) negara. Hal tersebut bukan sekedar asumsi belaka, melainkan sebuah realita yang sudah terbukti kebenarannya. Sebab, perempuan memiliki pengaruh yang besar dalam negara. “Apabila wanita itu baik maka baik pula suatu negara, dan apabila wanita itu rusak, maka akan rusak pula suatu negara.” Jika kita mau menelaah dengan cermat apa yang terjadi pada dunia, maka kita akan mengetahui betapa pentingnya peran perempuan dalam negara.

Katakanlah Norwegia. Sebuah negara di Semenanjung Skandinavia yang berbatasan langsung dengan Swedia, Finlandia dan Russia. Norwegia menduduki peringkat teratas dalam hal kemakmuran perempuan. Penilaian ini dapat kita lihat dari besarnya angka harapan hidup, pendapatan per kapita, sistem pendidikan, minimnya Angka Kematian Ibu (AKI) dan lain lain. Indikator-indikator tersebut menjadikan Norwegia sebagai negara yang paling ‘ramah’ terhadap perempuan. Sebenarnya, tidak hanya bidang kemakmuran perempuan saja, tapi juga bidang lingkungan dan tata kelola alam.

Bagaimana dengan Indonesia?

Kini Indonesia boleh sedikit berbangga diri, lantaran ada lembaga survei dunia yang mengatakan bahwa  kelak Indonesia akan menjadi negara Super Power pada tahun 2045 atau lebih dikenal dengan sebutan Indonesia Emas. Hal tersebut dapat di ukur dari positifnya  tingkat usia produktif rakyat Indonesia beberapa dekade kedepan. Guna mewujudkan mimpi besar yang telah diprediksikan, maka diperlukan kebijakan yang serius menangani dari akar. Kebijakan itu, harus menyuguhkan hal yang inovatif berkaitan dengan kekayaan sumber daya di Indonesia.

Menurut kaca mata penulis, negara Indonesia dapat benar-benar dikatakan sebagai negara yang masyhur apabila mampu mengolah sumber daya dalam negeri dengan se-efisien mungkin. Sumber daya tersebut, dapat berupa kekayaan alam, manusia, dan sumber daya lain yang memberikan energi serta manfaat bagi keberlangsungan hidup rakyat Indonesia. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa ada “catatan merah” bagi Indonesia dibalik melimpahnya sumber daya. Catatan merah tersebut berisikan beberapa persoalan klasik di tengah-tengah modernisasi yang masih menjadi momok masyarakat.

Salah satu persoalan Indonesia di masa sekarang adalah tentang kematian ibu pasca melahirkan. Dilansir dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, ada 228 ibu meninggal pada setiap 100 ribu kelahiran di Indonesia. Angka tersebut meningkat signifikan menjadi 359 pada 2012, dan kembali turun hingga 305 kematian pada 2015. Meskipun akhir-akhir ini angka kematian ibu mengalami penurunan, tapi ternyata masih jauh dari target yang diharapkan. Akibatnya, pada tahun 2015 Indonesia memperoleh rapor merah dari  Millennium Development Goals (MDGs) yang menetapkan penurunan rasio hingga 110 kematian ibu per 100 ribu kelahiran.

Wajar saja apabila laporan statistik MDGs ASEAN menunjukkan bahwa, Indonesia menduduki peringkat dua dalam hal angka kematian ibu. Pasalnya, angka kematian ibu di Indonesia masih di atas rata-rata angka kematian ibu negara-negara di ASEAN. Padahal negara tetangga Indonesia ( baca: Malaysia ), telah sukses menurunkan angka kematian ibu sampai 40 persen dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Lantas, jika Malaysia saja bisa mengapa Indonesia tidak?.

Hal penting yang perlu diketahui adalah faktor-faktor penyebab AKI. Sebab, hal tersebut merupakan dasar untuk menekan angka kematian ibu di Indonesia. Tujuannya adalah agar apa yang telah di targetkan, baik oleh negara Indonesia, MDGs ASEAN dan MDGs Global dapat tercapai. Beberapa faktor tersebut mencangkup :

Pertama, kematian ibu secara langsung. Langsung di sini dapat berupa pendarahan, infeksi dan preeklampsia yang dialami ibu pasca melahirkan. Adapun kondisi kehamilan ibu yang terlalu muda ( <18 tahun), terlalu tua ( >35 tahun ), rentang kehamilan yang terlalu dekat ( 2 tahun ) dan terlalu sering hamil, di tambah dengan masih maraknya pernikahan dini yang terjadi di Indonesia,  semakin memperbesar peluang kematian ibu saat melahirkan. Terkadang kondisi bayi itu sendiri yang kurang siap dan terlalu lemah, sehingga tidak memungkinkan untuk lahir ke dunia.

Kedua, kematian ibu akibat indikator dari luar (tidak langsung).  Kematian ini dapat terjadi, karena daya dukung dari tenaga kesehatan kurang merata. Hal tersebut mengindikasikan bahwa  ada ketimpangan antara tenaga kesehatan di kota dengan di desa. Umumnya, para tenaga kesehatan yang meliputi bidan, dokter, perawat dan sebagainya, lebih memilih untuk berdomisili di kota dengan alasan transportasi di kota lebih banyak dan mudah dijangkau, serta peralatan medisnya pun lebih lengkap. Berbeda dengan desa yang sarana dan prasarananya kurang memadai.

Selain itu, paradigma patriarki yang sedari dulu mengakar, memberikan efect negatif bagi masyarakat. Apa- apa harus menunggu izin atau pendapat dari suami terlebih dahulu, padahal sang ibu harus segera ditangani dengan cepat, mengingat melahirkan adalah momen yang urgen. Salah langkah dan waktu yang tidak pas meskipun sedikit saja, akan sangat membahayakan nyawa keduanya, baik ibu maupun bayi.

Meskipun Indonesia telah berada pada zaman digitalisasi, tak sedikit masyarakat yang masih awam akan wawasan pengetahuan mencangkup kesehatan para ibu hamil dan mekanisme persalinan. Hal tersebut bisa  disebabkan oleh minimnya tingkatan pendidikan dan kurangnya sosialisasi guna menekan kematian ibu melahirkan. Pemerintah sebagai pihak terkait dapat meningkatan kualitas sarana dan prasarana, meratakan tenaga kesehatan di tiap daerah, memperbanyak penyuluhan kepada masyarakat tentang hal ikhwal melahirkan dan kiat-kiat lain yang sekiranya dapat menunjang penurunan angka kematian ibu melahirkan.

Di awal tahun 2020 ini, penulis berharap semoga Angka Kematian Ibu (AKI) Indonesia dapat berkurang dan dapat sesuai dengan apa yang ditargetkan. Sehingga, bisa menjadi negara idaman yang ‘ramah’ bagi semua kalangan terutama perempuan.


Tulisan ini telah tayang di Radar Sulteng pada 04 Januari 2020

*Oleh: Wahyuni Tri Ernawati (Mahasiswi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo Semarang)


Menyoal Kematian Ibu Melahirkan Menyoal Kematian Ibu Melahirkan Reviewed by Wahyuni Tri Ernawati on April 25, 2022 Rating: 5

Tidak ada komentar:

top navigation

Diberdayakan oleh Blogger.