Urgensi Literasi Generasi Muda bagi Kemajuan Bangsa

 


Pada masa sekarang, kemajuan teknologi sangat berdampak pada kehidupan umat manusia. Tidak ada satu bidang yang luput dari kecanggihan teknologi. Teknologi kini semakin aktif menawarkan pelbagai fitur yang memudahkan urusan manusia. Namun, baik disadari maupun tidak, kecanggihan teknologi ternyata menimbulkan satu dampak buruk bagi masyarakat. Hal tersebut dapat mengancam keberlangsungan masa depan manusia, terutama kemajuan suatu bangsa. Generasi muda sebagai penopang masa depan bangsa, dituntut untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri agar mampu menanggulangi problematika yang terjadi, khususnya terhadap dampak kemajuan teknologi. Kemudian, ketika ditarik benang merah, kemampuan literasi generasi muda harus dibenahi sedari dini karena menjadi poin penting guna memajukan peradaban suatu bangsa.

Manusia tidak dapat memungkiri, bahwa transformasi zaman mendesak manusia untuk senantiasa berakselerasi. Manusia dituntut untuk bisa meningkatkan kualitas diri dengan memaanfaatkan produk perkembangan zaman. Satu sama lain saling berlomba-berlomba untuk menjadi yang utama sebagai penguasa dunia. Hingga pada akhirnya memunculkan manusia-manusia liberal yang hedonism. Persaingan yang semakin ketat dapat menciptakan “hukum rimba” yaitu yang kuatlah yang menang. Mereka yang lemah dan enggan untuk beradaptasi akan cepat mati karena terseleksi oleh lingkungan sosial masyarakat di bumi.

Generasi muda sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari manusia menduduki posisi hakim yang menentukan bagaimana nasib masa depan umat manusia. Orang-orang yang inovatif, kreatif dan produktif lahir ketika manusia berada pada fase muda. Kondisi fisik yang kuat, rasa keingintahuan yang hebat dan perkembangan intelektual yang memuncak mendukung generasi muda untuk aktif menyumbangkan ide atau gagasan dan dedikasi yang besar kepada peradaban manusia. Tidak ayal, jika generasi muda disebut sebagai agent of change. Hal tersebut juga selaras dengan aksara perjuangan Ir. Soekarno: “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Generasi muda perlu membekali diri dengan ketrampilan dan kemampuan yang komprehensif tentang konsentrasi ilmu pengetahuan. Peningkatan kualitas sumber daya generasi muda dapat dimulai dari meningkatkan kemampuan literasi. Literasi diambil dari bahasa serapan Inggris, yaitu literacy yang berarti sarana untuk belajar. Sedangkan UNESCO memberikan pemaknaan literasi yang lebih mendalam bahwa literasi merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, mengartikan, menciptakan, mengkomunikasikan, dan mengitung, menggunakan materi tercetak dan tertulis yang berkaitan dengan pelbagai konteks. Lebih singkatnya literasi adalah kegiatan membaca dan menulis.

Literasi menjadi kunci akan cepat atau lambatnya perkembangan suatu bangsa. Namun, daya literasi generasi muda sekarang nampak kian mengkhawatirkan. Pertumbuhan teknologi yang semakin canggih, justru memangkas minat generasi muda pada literasi. Padahal, ketrampilan dan ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kualitas diri paling banyak diperoleh dari proses literasi. Contoh saja di negara Indonesia. Daya literasi masyarakat Indonesia berada pada tingkatan yang rendah, bahkan data UNESCO memaparkan bahwa Indonesia dalam literasi dunia berada di urutan kedua dari bawah. Apabila dikalkulasikan, maka kurang lebih 0,001 % dari 1000 orang saja yang rajin membaca. Sangat miris. Padahal, ketika ditinjau dari aspek penilaian infrastruktur yang mendukung kegiatan membaca, Indonesia berada pada peringkat di atas negara-negara Eropa.

Ketimpangan yang terjadi tersebut, mengindikasikan bahwa ada suatu jaring masalah yang saling berkaitan antara satu aspek satu dengan yang lain. Bisa jadi, jaring masalah itu berbentuk hukum kausalitas yaitu sebab-akibat. Jika boleh dikatakan, bangsa Indonesia kenapa tidak maju-maju? Karena daya literasi masyarakat terutama generasi mudanya rendah. Kenapa minat dalam literasi rendah? Karena perkembangan teknologi membawa pengaruh negatif bagi masyarakat sehingga menurunkan minat membaca.

Poblematika yang timbul di atas perlu segera diurai, mengingat bangsa Indonesia mempunyai visi yaitu menyongsong Indonesia Emas pada tahun 1945. Jika tidak, Indonesia akan semakin jauh dari kata “maju” dalam arti yang sesungguhnya. Generasi muda sebagai titik tolak pembaharu harus segera membenahi diri agar dapat menyelesaikan bermacam problematika, baik yang bersifat modernism maupun yang telah mengakar sejak dahulu kala. Peningkatan daya literasi ditengarai menjadi solusi yang tepat sekaligus sebagai penanda kemajuan suatu bangsa. Apabila daya literasi masyarakat tinggi, maka semakin majulah negaranya.

Pembenahan daya minat literasi generasi muda harus ditekankan sedari dini melalui bidang pendidikan. Sejak kecil, anak-anak harus dibiasakan berjibaku dengan buku-buku bacaan. Sekolah memang mempunyai andil yang penting dalam membentuk habbit anak-anak. Apabila habbitnya baik dan positif, maka kualitas sumber daya manusianya juga baik. Para orangtua juga mempunyai peran strategis dalam membentuk kebiasaan literasi pada anak-anaknya. Mereka tidak boleh mencekoki anak-anaknya dengan produk teknologi berupa gadget, ipad, notebook dan sebagainya yang memang belum sepatutnya mereka gunakan. Sebab, ketika masih kecil, anak-anak belum tahu-menahu dan memahami secara pasti akan fungsi barang-barang tersebut. Alhasil, mereka justru akan menyalahgunakan kekuasaan tersebut dengan menggunakan tidak sebagaimana mestinya, seperti bermain game, searching hal yang tidak perlu, bahkan dikhawatirkan terjerumus pada pornografi atau hal-hal yang berbau sara. Na’uudzubillaah.

Dalam konteks perkembangan zaman, literasi memang dapat dilakukan secara lebih efisien yaitu memanfaatkan pelbagai platform media online dan tidak hanya terpaku pada media cetak. Hal tersebut bertujuan untuk memudahkan masyarakat dalam menyelami dunia literasi. Bukan hanya generasi muda saja yang dapat mengakses kemudahan tersebut, tetapi pelbagai jenjang usia dapat merasakannya. Masalahnya, literasi dalam lingkup teknologi bukan hanya diartikan sebagai membaca status, membaca chat, mengunggah tulisan curhatan dan semisalnya, tetapi benar-benar membaca, memahami dan merenungkan bacaan yang mengandung substansi seperti jurnal, e-book, artikel dan sejenisnya. Namun, lagi-lagi hal itu dikembalikan kepada subjek yaitu bagaimana bijak-bijaknya ia dalam memanfaatkan produk teknologi.

Jadi, dengan pelbagai tuntutan di atas, tidak heran jika generasi muda dengan segala kelebihannya diberi amanah untuk menahkodai jalannya perkembangan suatu bangsa. Mau tidak mau, mereka harus meningkatkan kualitas diri agar tidak “tenggelam” dalam kekalahan dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa di dunia. Solusi yang harus digencarkan adalah meningkatkan daya literasi. Mengingat seiring berkembangnya zaman, di sebagian negara minat literasi masyarakat kian menurun. Padahal, literasi adalah hal yang urgen dan menjadi poin penting kemajuan suatu bangsa. Generasi muda sebagai tongkat estafet kepemimpinan negara di masa yang akan datang, harus sadar dan mulai menggerakkan diri untuk mengaktifkan gairah literasi masyarakat. Wallahu a’lam bi al-shawaab.


Urgensi Literasi Generasi Muda bagi Kemajuan Bangsa Urgensi Literasi Generasi Muda bagi Kemajuan Bangsa Reviewed by Wahyuni Tri Ernawati on Juni 10, 2022 Rating: 5

Tidak ada komentar:

top navigation

Diberdayakan oleh Blogger.