Reaktualisasi Spirit Juang Kartini di Era Digitalisasi

 


“Perempuan hebat tanpa suara, yang sebenarnya penuh dengan karya.”

Itulah pernyatan singkat Khofifah Indar Parawansa kala menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur tahun 2018-sekarang. Pernyataan tersebut ditujukan kepada para perempuan di masa kini yang tengah berada di zaman digitalisasi. Perempuan-perempuan hebat yang disadari atau tidak, dapat  mengaktualisasikan spirit juang R.A Kartini.

R.A Kartini adalah tokoh perempuan nasional asal Jepara, Jawa Tengah yang lahir pada tanggal 21 April 1879. Perempuan yang tatkala masih muda, sudah mengguncang Indonesia bahkan dunia berkat perjuangan dan karyanya. Seperti yang kita ketahui, karya Kartini yang paling terkenal adalah “Door Duisternis Tot Licht” atau” Habis Gelap Terbitlah Terang” yang ia hasilkan pada tahun 1911.

Buku tersebut banyak memengaruhi mindset orang-orang, terutama kaum perempuan yang ketika itu tengah terbatas kebebasannya. Katakanlah hak asasi mereka terkekang dan kurang dapat melakukan aksi untuk menyuarakan aspirasi mereka. Namun sebelum itu, tepatnya pada umur 14 tahun, Kartini telah menghasilkan sebuah karya yang menyoal “Upacara Perkawinan pada Suku Koja”. Meskipun terbilang masih muda, Kartini benar-benar telah membukikan eksistensi dari kepandaian intelektualnya.

Sayang, segala kelebihan yang Tuhan anugerahkan berupa khazanah keilmuan dan mimpi besarnya harus ia telan bulat-bulat. Semua cita-cita Kartini  mau tidak mau harus terpatahkan oleh kenyataan pahit yang tidak mampu untuk ditolaknya. Kartini muda harus rela mengubur segudang mimpinya lantaran didesak untuk menikah. Selain itu, banyak perspektif negatif dari kaum Belanda yang ditujukan kepadanya. Padahal besar harapan Kartini untuk melanjutkan pendidikan dan mengejar mimpinya, tapi ia tidak berdaya. Derajat perempuan kala itu memang seakan berada di bawah ‘ketiak laki-laki’.

Walaupun telah menikah, spirit Kartini dalam berjuang meraih mimpi dan berdedikasi untuk negeri ternyata tidak padam begitu saja. Kartini tetap berusaha untuk memberikan sumbangsih semampu yang ia bisa.“Kartini berjuang bukan dengan fisik tapi intelektual, bagaimana ia memiliki pikiran dan gagasan yang sangat maju di zamannya dituliskan dalam surat-surat yang membawa perubahan besar buat perempuan Indonesia” Kurang lebih seperti itulah komentar salah satu perempuan muda beprestasi di masa kini perihal Kartini yaitu Gita Gutawa.

Kartini juga pernah mendapat tuduhan “Jawa sentris” oleh pihak-pihak yang merasa bahwa sosoknya dapat mengusik ketenangan bahkan menjadi ancaman bagi mereka yang kontra dengan pemikirannya. Namun, Kartini tidak mempermasalahkan hal tersebut. Ia tetap berkarya dan tidak tergoyahkan oleh lontaran perspektif orang lain yang terkesan menjatuhkan.

Pemikiran Kartini awal abad 20 adalah peta menuju jalan kemajuan bahwa manusia harus berlaku setara. Iya, Kartini sangat bersemangat menggaungkan apa yang menjadi hak-hak kaum perempuan. Ia ingin perempuan-perempuan Indonesia itu berpendidikan tinggi dan berwawasan luas, agar  mereka dapat berdikari. Maksudnya adalah tidak selalu bergantung kepada laki-laki dan lebih mendapat ruang untuk mengeksplorasi diri.

Ketika usia yang masih muda pula, Kartini harus meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Ia meninggal pada usia 25 tahun. Namun, semangat perjuangan Kartini tetap ada di sanubari rakyat Indonesia. Buktinya, organisasi Gerwani (Gerakan Mahasiswa Islam) kala itu menamakan buletin resminya dengan nama “Api Kartini” dengan harapan spirit perjuangan kartini tetap menyala dan dapat diaktualisasikan oleh generasi setelahnya.

Generasi tersebut termasuk para perempuan yang kini berada di zaman digitalisasi. Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS), jumlah penduduk indonesia  pada tahun 2020 kurang lebih 269,6 juta jiwa dengan perempuan 134,27 jiwa. Perempuan dengan jumlah yang tidak bisa dikatakan sedikit itu, harus mampu menanamkan nilai-nilai juang Kartini yang juga sebagai pahlawan nasional, terutama semangat menambah ilmu pengetahuan untuk menggapai impian.

Para perempuan di masa kini yang diidentikan dengan fashionable, lebih ‘bebas’, dan mempunyai hak yang sama dengan kaum Adam, tidak menutup kemungkinan untuk mengaktualisasikan spirit juang Kartini. Apalagi sekarang semakin dipermudah dengan perkembangan tekonologi yang sedemikian pesatnya. Tentu bukan hanya intelektual perempuan saja yang meningkat, melainkan akan banyak pula buah dari karya yang dihasilkan. Selain itu, karakter dalam diri Kartini juga patut di jadikan contoh, seperti tidak mudah menyerah dan mempunyai rasa keberanian yang tinggi.

Perempuan yang harum namanya itu, benar-benar telah menjadi pendekar bangsa. Bagaimana tidak? ia telah mengeluarkan kaum perempuan dari perbudakan dan menyadarkan tentang arti penting pendidikan, sehingga di generasi digitalisasi ini, mereka dapat leluasa untuk menuntut ilmu dan aktif berpartisipasi dalam pelbagai lini di masyarakat. Jadi, sebagai generasi penikmat perjuangan Kartini, jangan sampai menyia-nyiakan apa yang telah Kartini lakukan. Mari kita bersama-sama terus mengasah dan meningkatkan kualitas diri, setidaknya dapat selinier dengan Kartini.

*Oleh: Wahyuni Tri Ernawati (Mahasantri di Daar al-Qalaam & Mahasiswi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo Semarang)

Tulisan ini telah tayang di Baladena.id pada 30 April 2020. Selengkapnya https://baladena.id/reaktualisasi-spirit-juang-kartini-di-zaman-digitalisasi/

Reaktualisasi Spirit Juang Kartini di Era Digitalisasi Reaktualisasi Spirit Juang Kartini di Era Digitalisasi Reviewed by Wahyuni Tri Ernawati on April 25, 2022 Rating: 5

Tidak ada komentar:

top navigation

Diberdayakan oleh Blogger.